by

Fahri Hamzah: Kehidupan Demokrasi Terancam, Jika Tidak Rasional

PERDANANEWS TASIK — Kehidupan, Wakil Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Fahri Hamzah, menyebutkan,Tradisi Demokrasi indonesia saat ini belum berjalan sepenuhnya karena tradisi demokrasi yang didasari dengan perasaan.

Menurut Mantan Aktifis 1998 ini bahwa tradisi peradaban bangsa yang tinggi harus mampu mengorganisir fikiran, oleh krena itu dibuthkan inovasi yang lebih baik dengan cara melihat problem bangsa ini kedepan, agar demokrasi kita bisa berjalan sesuai harapan.

Fahri juga menambahkan bahwa dirinya sedang  mencari sebuah solusi bagaimana mengadress bergbagai problem terkait tradisi demokrasi yang mampu Mengedepankan tradisi peradaban bangsa dengan menggunakan fikiran rasional.

“Tradisi demokrasi saat ini solah seperti tradisi kebudayaan Veodal seperti jaman raja-raja dahulu yang bersumber dari darah exlusive keluarga kerajaan”. Kata Fahri dalam webinar nasional yang diadakan Moya Institute bertajuk ‘Partai Politik dan Tantangan Demokrasi Terkini’ di Jakarta, Kamis (11/2).

Sementara menurut Juru bicara partai solidaritas Indonesia (PSI) Faldo Maldini, Agar demokrasi dapat lebih berkontribusi, partai politik harus mampu menciptakan sebuah Aplikasi yang secara langsung memberikan manfaat kepada masyarakat.

Mantan Politikus Partai Amanat Nasional tersebut mencontohkan seorang milenial yang saat ini mampu menciptakan inovasi perusahan starup seperti Mentri Pendidikan Nhadiem Makarim.

Faldo menyebutkan bahwa dirinya telah banyak melakukan diskusi dengan para milenial muda yang sukses dalam membangun suatu perusahaan berupa Aplikasi yang nyata manfaatnya kepada masyarakat.

“Sudah waktunya partai politik (Parpol) dapat mencontoh Para pengembang teknologi supaya mampu melahirkan produk aplikasi yang diterima serta bermanfaat bagi masyarakat. Ujar Faldo Maldini.

Sedangkan Diplomat senior Imron Cotan menyampaikan pandangannya agar parpol benar-benar dapat menjadikan Pancasila sebagai landasan aktivitasnya. Imron menyebut, jika parpol konsisten berdasarkan Pancasila dalam muruahnya, ke depannya mampu menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang unggul dan mencetak generasi emas tahun 2045.

Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) Djayadi Hanan menambahkan, pada Februari 2020 berdasarkan data dimilikinya, tingkat ketidakpuasan masyarakat Indonesia terhadap demokrasi sangat tinggi. Djayadi menegaskan, apabila demokrasi dipandang buruk oleh sebagian masyarakat, sudah sepatutnya tidak dianggap secara keseluruhan.

Dia menduga, faktor demokrasi dianggap buruk disebabkan parpol yang dalam aktivitasnya lebih banyak ke ranah negara ketimbang masyarakat. Padahal parpol dalam fungsinya haruslah berimbang antara ke negara dan masyarakat.

“Partai politik lebih asyik urusan ke negara, dengan mainan-mainannya sehingga lupa dengan tuntutan masyarakat. Aspirasi masyarakat belum jadi pertimbangan utama,” kata Djayadi.

(PN/BR).

Comment

PERDANANEWS